Nasyid Mengantar Snada Sampai ke Mekkah

Jakarta, CNN Indonesia — Lantunan merdu akapela dalam lagu Neo Shalawat pada awal 2000-an silam mengantar sekelompok pria menjadi sorotan publik Indonesia. Sekelompok pria yang bernama Snada itu mengantarkan angin segar musik religi Islami di Indonesia.


Bukan tanpa alasan, Snada melepas identik musik religi yang bertabuh instrumen khas Arab dan Gujarat seperti rebana. Mereka, yang saat itu masih bertujuh, menggunakan akapela dan paduan suara yang biasanya digunakan musik religi di Gereja.

Namanya semakin terkenal ketika di waktu bersamaan, lagu Jagalah Hati dari KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym yang saat itu ramai muncul di TV nasional, dibawakan oleh Snada. Grup ini pun seolah menjadi ikon nasyid dari Indonesia, ketika Raihan juga menjadi ikon munsyid dari Malaysia.

Snada yang kini beranggotakan lima orang pria itu membagi setiap anggotanya dengan beragam tugas.

Teddy Tardiana sebagai vokalis satu dan Muhammad Iqbal Taqiudin menjadi vokalis dua. Posisi baritone diisi oleh Erwin Yahya, tenor oleh Muhammad Lukman Nunasyim, dan bass oleh Ikhsan Nur Ramadhan yang merupakan seorang mualaf.

Lima sahabat itu sudah berkawan dan mulai merintis karir sejak kuliah. Erwin dan Lukman bersama Agus -yang telah hengkang- membentuk Snada ketika berstatus mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, di era awal dekade 90-an.

Seperti pada grup nasyid lainnya, mereka menjadi munsyid untuk berdakwah.

“Jadi dulu itu waktu mahasiswa, kami ingin ikut berdakwah tapi dari angle yang berbeda, tidak seperti tausiah-tausiah para ustad. Karena kami mahasiswa, akhinya kami pilih nasyid yang saat itu sedang berkembang,” kata Erwin, saat ditemui CNNIndonesia.com di sela-sela kegiatan Snada jelang Ramadan.

Erwin, Lukman, dan Agus, kemudian merekrut personel lain yakni Iqbal, Alamsyah, Teddy, dan Ikhsan. Di perjalanan, Agus dan Alamsyah memutuskan untuk keluar sehingga menyisakan lima personel Snada saja.

Dari Emperan Masjid hingga Mekkah

Snada memulai karier dengan tampil di berbagai kegiatan kampus secara suka rela. Mereka baru mendapatkan bayaran saat tampil dalam undangan dari Wali Kota Semarang sebesar Rp30 ribu.

“Rp30 ribu itu girang banget karena masih mahasiswa dan sejak saat itu kami menetapkan honor. Itu berkah terus mengalir hampir 27 tahun Snada berkiprah di dunia lagu-lagu Islam,” ucap Lukman.

Demi memperluas dakwah agar tak hanya dinikmati di kalangan terbatas, Snada lantas masuk ke dapur rekaman dan mengeluarkan album perdana di tahun 1995. Kaset yang dijajakan di emperan masjid selepas salat Jumat ataupun pengajian itu berhasil terjual hingga puluhan ribu kopi.

Lagu-lagu di album itu mengadaptasi nasyid bertemakan semangat perjuangan untuk Palestina yang banyak datang dari Timur Tengah. Hanya saja, Snada menyesuaikan lirik nasyid dengan lebih banyak menyentuh sisi humanis religius yang cocok dengan situasi masyarakat Indonesia dan terinspirasi dari kejadian sehari-hari.

“Lagi jalan naik bus, ada yang berkelahi ramai-ramai jadilah Satu dalam Damai. Kami mengambil hikmah dari yang terjadi di sekeliling kami,” tutur Lukman.

Nama Snada semakin dikenal masyarakat luas lewat album Neo Salawat pada tahun 2000. Salawat yang dibawakan secara akapela itu dijadikan musik pengiring untuk program dan stasiun televisi ketika itu. Namun, mereka pun harus menerima kontroversi dari lagu tersebut.

“Karena kami bikin salawat dibuat akapela. Wah menarik pada tahun itu yah, jadi orang-orang kecantol,” ujar Erwin.

“Kontranya di kalangan Islam sendiri, lagu-lagu itu masih ada pro-kontra, misalnya kami bernyanyi salawat dibagi suara. Itu langsung mereka marah, sound system-nya dicabut, ada yang langsung di suruh turun, terus ada yang bilang ‘mohon maaf ya belum bisa tampil’,” tutur Teddy.

Teddy juga menyebut ada pula yang sampai memberhentikan akapela Snada di atas panggung karena penasaran bagaimana bisa dari mulut keluar musik seolah-olah ada band pengiring. Walau banyak pertentangan, Snada tetap terus berakapela demi mewujudkan nasyid untuk semua kalangan.

“Nasyid for all, doa kami dari dulu ternyata sudah terwujud, banyak sekali band-band yang sudah bernasyid, itu tujuan kami,” ujar Teddy.

Puncaknya, nasyid pula yang berhasil membawa para personel Snada berangkat umroh dan haji ke Mekkah pada tahun 2006 bersama-sama berkat tawaran sebuah agen travel yang kerap bekerja sama dengan Snada.

 

Uang Bukan Segalanya

Bicara soal pendapatan, personel Snada enggan memberi tahu uang yang mereka dapat sekali panggung. Mereka sepakat jika untuk kegiatan sosial maka bisa jadi tak ada tarif yang dipatok melainkan suka rela. Akan tetapi, jika menghibur secara profesional tarif tinggi pun tak sungkan ditetapkan.

Lebih dari itu, anggota Snada menilai uang yang mereka dapat bukanlah segalanya.

“Tapi keberkahan yang banyak, ukhwah berumrah berhaji, silaturahim banyak, banyak yang mengenal kami dari kalangan yang baik, mendatangi kami kaarena terinspirasi dari lagu kami. Itu yang paling penting,” tutur Teddy.

Snada juga sadar bahwa nasyid kini semakin berkembang. Mereka merasakan perubahan nasyid yang semula hanya ada di komunitas pengajian dan politik, kini berkembang, bukan hanya melintasi berbagai komunitas, melainkan hingga bentuk kreatifitas nasyid itu sendiri.

“Dahulu lagu nasyid itu bahasa Arab tentang jihad, makin ke sini semakin mengikuti perkembangan zaman seperti kondisi yang tengah krusial hingga masalah percintaan halal,” kata Erwin. “Dari segi aransemen juga berubah, dulunya akapela, sekarang dicampurbeatbox, hip-hop, dan lain-lain.”

“Sekarang nasyid sudah mulai lintas komunitas, namun dari segi komunitasnya sendiri masih kuat,” kata Teddy. “Alhamdulillah Snada sudah lintas komunitas ke berbagai kalangan, kami juga membantu adik-adik tim nasyid yang baru yang juga ingin diterima di berbagai kalangan.”

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20170528015124-227-217763/nasyid-mengantar-snada-sampai-ke-mekkah