Ular Yang Melilit Gergaji

ular dan gergaji 01Ada seorang tukang kayu yg sehari-hari bekerja digudangnya. Tukang kayu ini bekerja dengan cepat sekali. Selain rajin, pekerjaanya didukung oleh peralatannya yg sangat baik dalam hal pemeliharaannya. Sebut saja gergaji. Si tukang kayu ini punya 19 jenis gergaji yg sangat tajam. Suatu hari karena terlalu lelah bekerja, beliau membiarkan peralatannya tergeletak di gudang.

Malam harinya, datang seekor ular phyton yg sangat besar. Ular itu memasuki gudang tempat si tukang kayu bekerja. Saat melintas, kulit ular menyentuh gerigi gergaji yg ada dilantai. Ular kaget dan mengarahkan kepalanya ke gergaji. Si ular berfikir bahwa gergaji itu telah menyakiti tubuhnya. Dengan cepat si ular langsung mematuk gergaji tersebut. Karena tidak puas dan sangat kesal, ular tadi melilit gergaji tersebut sekuat-kuatnya. Pagi menjelang, si tukang kayu mendapatkan ulat tersebut dalam keadaan mati. 

Apa kira-kira menurut Anda yang menarik dari cerita diatas? Yup Anda benar. Ketidaktahuan si ular lah yang mengantarkannya ke pintu kematian. Gergaji yang terbuat dari baja ringan itu berhasil mencabik badan ular justru karena lilitan si ular. Kalau dibawa kedalam kehidupan sehari-hari, kira-kira seperti apa ya kejadiannya ?

Saya melihat analogi ular yang melilit gergaji ini seperti orang yang memelihara dengki, dendam dan yang sejenisnya. Mereka yg memelihara dengki dan dendam itu tidak merasakan bahwa perlahan tapi pasti perasaan itu akan membawa kepada kesengsaraan. Rasa kesal yang ada didalam hati anda seperti melilit “gergaji” dendam yang Anda pelihara. Apakah anda pernah memiliki rasa dendam kepada seseorang ? Bagaimana rasanya ? Susah kan ya ?! Makan jadi gak enak, kalo ketemu dijalan jadi ribeut, pokoknya serba gak enak. Tapi semakin anda memelihara rasa dendam tersebut maka semakin sakit hati dan perasaan anda, bagai ular yang melilit gergaji tadi.

Coba anda pikirkan….untuk memelihara rasa dendam butuh effort gak ? Justru butuh dong yah. Anda harus memelihara rasa kesal, jengkel, mangkeul dan lain sebagainya. Kebalikannya, bila Anda mau melepaskan rasa dendam tersebut, apakah butuh effort ? Butuh juga dong ya. Anda harus punya segudang lebih rasa ikhlas untuk memaafkan dan mau melupakan kejadian yang pernah menyakitkan anda. Dan kalau dua-duanya butuh effort yang sama, kira-kira mana yang akan Anda pilih ? Yang mana yang akan Anda tinggalkan ?

Silahkan Anda jawab dalam hati. Semoga menginspirasi.

@erwinsnada | 0818750500 | service coach | digital management enthusiast